Jakarta, JatimVoice.com – Serangan militer Amerika Serikat (AS) terhadap Venezuela di era kepemimpinan Presiden Donald Trump diprediksi menjadi peluang bagi China untuk memperkuat posisinya dalam klaim teritorial, khususnya terkait Taiwan dan Laut China Selatan (LCS). Namun, para ahli menilai bahwa hal ini tidak akan langsung memicu invasi Beijing ke Taiwan dalam waktu dekat.
![]() |
| Sumber Reuters |
Menurut laporan Reuters yang dikutip oleh CNBC Indonesia pada 5 Januari 2026, aksi AS ini justru memberikan "amunisi" diplomatik baru bagi Presiden Xi Jinping. Meskipun China tetap berpegang pada jadwal internalnya sendiri mengenai Taiwan, insiden di Venezuela dapat dimanfaatkan untuk mengubah narasi global. Penangkapan Nicolas Maduro oleh pasukan AS pada akhir pekan lalu disebut sebagai momen tak terduga yang memperlemah kredibilitas AS dalam menuduh China melanggar hukum internasional.
William Yang dari International Crisis Group menyoroti bahwa serangan tersebut menciptakan celah bagi China untuk membalas kritik AS. "Ini benar-benar menciptakan banyak celah dan 'amunisi murah' bagi China untuk melawan AS di masa depan terkait isu Taiwan, Tibet, hingga sengketa pulau di Laut China Timur dan Selatan," katanya. Kementerian Luar Negeri China pun langsung mengutuk tindakan AS sebagai pelanggaran hukum internasional, sementara Xinhua menyebutnya sebagai "perilaku hegemonik yang nyata".
Di sisi lain, para analis seperti Shi Yinhong dari Universitas Renmin Beijing menekankan bahwa ambisi China terhadap Taiwan lebih bergantung pada pengembangan militer internal, bukan sekadar meniru aksi Trump. Neil Thomas dari Asia Society menambahkan bahwa Beijing tidak akan menggunakan kasus Venezuela sebagai preseden hukum, karena Taiwan dianggap sebagai urusan domestik China. "Beijing akan ingin terlihat kontras dengan Washington demi menunjukkan bahwa mereka berdiri untuk perdamaian dan kepemimpinan moral," ujar Thomas.
Dari perspektif Taiwan, Wang Ting-yu dari partai DPP menolak perbandingan antara Taiwan dan Venezuela. "China tidak pernah kekurangan niat buruk terhadap Taiwan, tapi mereka kekurangan cara yang layak untuk melakukannya. China bukan AS, dan Taiwan jelas bukan Venezuela," tulisnya di media sosial. Meski demikian, tekanan militer China terhadap Taiwan terus meningkat, termasuk latihan perang besar-besaran baru-baru ini.
Diskusi di media sosial China seperti Weibo juga ramai, dengan banyak netizen menyarankan agar Beijing belajar dari ketegasan Trump. Lev Nachman dari National Taiwan University memperingatkan risiko jangka panjang: "Apa yang dilakukan Trump bisa membantu narasi Xi Jinping di masa depan untuk menciptakan pembenaran lebih kuat atas tindakan militer terhadap Taiwan."
Situasi ini kemungkinan akan mendorong Taiwan untuk semakin mendekat ke AS, meskipun risiko eskalasi tetap ada. Aksi AS di Venezuela tidak hanya mengganggu stabilitas Amerika Latin, tetapi juga berpotensi memperumit dinamika geopolitik di Asia Pasifik.
Tags
Internasional

