Megawati Soekarnoputri Ucapkan Selamat kepada Pemimpin Baru Iran

Jakarta, JatimVoice.com - Presiden ke-5 RI sekaligus Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Megawati Soekarnoputri menyampaikan ucapan selamat kepada Mojtaba Khamenei atas penunjukannya sebagai pemimpin tertinggi baru Iran. Dilansir dari berbagai sumber, Megawati juga menegaskan bahwa dunia harus dibangun di atas prinsip hidup berdampingan secara damai, kesetaraan, keadilan, serta kemanusiaan tanpa sekat.
Sumber kompas.id


Ucapan selamat tersebut disampaikan Megawati melalui surat tertanggal 9 Maret 2024 yang diserahkan kepada Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi untuk diteruskan kepada Mojtaba Khamenei. Mojtaba meneruskan kepemimpinan setelah ayahnya, Ayatollah Ali Khamanei, wafat pada 28 Februari 2024.

Sebelumnya, pada 2 Maret 2024, Megawati juga mengirimkan surat ucapan dukacita atas wafatnya Ali Khamenei. Surat tersebut juga diserahkan melalui Boroujerdi. Sekretaris Jenderal PDI-P Hasto Kristiyanto melalui keterangan tertulis di Jakarta, Minggu (15/3/2024), mengatakan bahwa Pemerintah Iran mengapresiasi sikap Megawati yang menyampaikan dukacita atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran sebelumnya, Ali Khamenei, sekaligus memberikan ucapan selamat kepada pemimpin baru Iran.

Dubes Mohammad Boroujerdi menyebut Ibu Megawati selalu yang pertama dan menggambarkan sosok pemimpin yang tidak hanya cinta perdamaian, tetapi juga memperjuangkan nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan dalam tata pergaulan global. Menurut Hasto, Dubes Iran juga berharap sikap Megawati tersebut dapat diikuti oleh Pemerintah Indonesia.

Dalam suratnya, Megawati menuliskan ucapan selamat atas terpilihnya Mojtaba sebagai Rahbar atau Pemimpin Tertinggi Iran melalui keputusan Majelis Pakar. Megawati menilai pemilihan tersebut menunjukkan kepercayaan besar para ulama dan rakyat Iran terhadap kepemimpinan Mojtaba di tengah situasi yang penuh tantangan. Pemilihan itu menjadi bukti kepemimpinan, kecakapan, kedalaman ilmu, dan keteguhan Mojtaba dalam menembus sekat perbedaan serta menyatukan kepemimpinan Iran.

Megawati juga menyinggung pemikiran geopolitik Presiden pertama RI Sukarno yang menekankan pentingnya persatuan bangsa-bangsa Asia, Afrika, dan Amerika Latin untuk membangun tata dunia baru yang bebas dari imperialisme dan kolonialisme. Upaya itu diwujudkan melalui berbagai forum internasional seperti Konferensi Asia Afrika 1955, Gerakan Nonblok tahun 1961, Konferensi Anti-pangkalan Militer Asing tahun 1965, dan Conference of The New Emerging Forces (Conefo) tahun 1965.

Seluruh pemikiran geopolitik Bung Karno tersebut merupakan upaya nyata mewujudkan kesetaraan, keadilan, dan visi kuat bagi perdamaian dunia. Dengan melihat berbagai persoalan yang dihadapi oleh rakyat dan bangsa Iran saat ini, Megawati berpandangan bahwa rekam jejak sejarah peradaban bangsa Iran yang begitu panjang telah membentuk karakter dan semangat juang yang luar biasa.

Bahkan, di tengah berbagai tekanan dan sanksi ekonomi yang berlangsung begitu lama, bangsa Iran mampu hadir sebagai bangsa yang berdaulat di bidang politik, berdikari di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan, atau yang dikenal dengan Trisakti Bung Karno. Dengan pertimbangan tersebut, Megawati berkeyakinan bahwa kepercayaan yang diberikan kepada Mojtaba dapat melanjutkan jejak para pemimpin revolusi Republik Islam Iran terdahulu yang memiliki pandangan yang sama dengan pemikiran Bung Karno.

Sebagai bangsa, Megawati meyakini bahwa dunia sejatinya harus dibangun di atas prinsip hidup bersama secara damai, kesetaraan, keadilan, serta kemanusiaan tanpa sekat. Prinsip ini merupakan cerminan dari falsafah dan ideologi bangsa Indonesia, Pancasila, serta termaktub dalam konstitusi Indonesia.

Bangsa Indonesia selalu percaya bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa dan oleh karena itu penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Nilai-nilai inilah yang membentuk sikap Indonesia untuk tidak tinggal diam terhadap berbagai bentuk penindasan dan imperialisme baru.

Megawati turut menyinggung pidato Sukarno di Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1960 berjudul ”To Build the World Anew”, yang memperingatkan bahwa imperialisme dapat muncul dalam watak dan corak yang berbeda. Dalam pidato tersebut, Sukarno juga menegaskan pentingnya revitalisasi PBB agar bisa menjadi lembaga dunia yang berwibawa, mampu menegakkan keadilan, serta menjadi wadah yang setara bagi negara-negara di dunia.

Karena itu, Megawati berharap PBB mampu memainkan peran lebih aktif dalam menjaga perdamaian dunia dan menghentikan berbagai bentuk invasi sepihak terhadap negara berdaulat. Sudah saatnya PBB mengambil peran yang sentral melalui dukungan negara-negara Asia, Afrika, dan Amerika Latin yang telah lama merindukan dunia yang damai, bebas dari segala bentuk pengisapan.

Di akhir suratnya, Megawati menyampaikan doa agar Mojtaba memperoleh kekuatan dan kebijaksanaan dalam memimpin Iran keluar dari krisis serta membawa bangsanya menuju kemajuan yang berkeadilan dan bermartabat.
Baca juga:
Berita sebelumnya Berita berikutnya

Advertorial »

نموذج الاتصال