Pernyataan Trump Soal Bantuan China di Selat Hormuz Tuai Cemoohan Senator AS

Washington, JatimVoice.com - Pernyataan Presiden Donald Trump yang meminta bantuan China untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz menuai cemoohan dari senator Amerika Serikat. Trump sebelumnya menyerukan kepada negara-negara besar, seperti Inggris, Perancis, dan China, untuk mengerahkan kapal perangnya ke Selat Hormuz guna mengawal kapal-kapal minyak.
Sumber kompas.com


Dilansir dari berbagai sumber, pernyataan Trump tersebut dianggap tidak masuk akal oleh Pemimpin Minoritas Senat AS dari Partai Demokrat, Chuck Schumer. Melalui media sosial, Schumer mempertanyakan logika di balik usulan tersebut. "Donald Trump mengatakan dia berharap China akan membantu kita membersihkan Selat Hormuz. Anda bercanda?" tulisnya.

Schumer juga menuding kebijakan Trump justru memperburuk kondisi kawasan. Menurutnya, presiden telah "menciptakan kekacauan" di Timur Tengah dan tidak memiliki rencana yang jelas untuk menyelesaikan krisis yang sedang berlangsung. Pernyataan Trump tersebut dinilai sebagai upaya untuk mengalihkan tanggung jawab ke negara lain.

Trump membela gagasannya dengan menekankan bahwa negara-negara yang diuntungkan dari jalur perdagangan tersebut seharusnya ikut menjaga keamanannya. Dalam wawancara dengan Financial Times, Trump mengatakan, "Sudah sepantasnya pihak-pihak yang menjadi penerima manfaat dari selat tersebut ikut memastikan tidak terjadi hal buruk di sana. Saya pikir China juga harus membantu."

Namun, pernyataan Trump tersebut tidak hanya menuai cemoohan dari senator AS, tetapi juga berdampak pada hubungan diplomatik dengan China. Trump mengumumkan penundaan rencana kunjungannya ke China, yang semula dijadwalkan berlangsung pada 31 Maret hingga 2 April. Kunjungan tersebut diminta untuk ditunda "sekitar satu bulan atau lebih" karena Trump ingin tetap berada di Washington selama operasi militer terhadap Iran masih berlangsung.

Situasi kawasan meningkat drastis sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan militer besar-besaran terhadap Iran. Serangan tersebut dilaporkan menewaskan lebih dari 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei. Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan drone dan rudal ke sejumlah wilayah, termasuk Israel, Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk yang menjadi lokasi pangkalan militer AS.

Di tengah eskalasi tersebut, Iran menutup Selat Hormuz pada awal Maret. Penutupan ini mengguncang pasar energi global. Selat sempit yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman itu menjadi jalur sekitar 20 juta barrel minyak per hari—setara hampir seperlima pasokan dunia. Karena itu, keamanan kawasan ini sangat krusial bagi stabilitas perdagangan dan energi global.

Dalam situasi yang semakin memanas, komunitas internasional mulai mencari solusi untuk mengatasi krisis di Timur Tengah. Namun, pernyataan Trump yang meminta bantuan China untuk membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz dinilai tidak efektif dan berpotensi memperburuk kondisi kawasan. Oleh karena itu, diperlukan upaya diplomatik yang lebih intensif untuk menyelesaikan krisis ini dan memastikan stabilitas perdagangan dan energi global.
Baca juga:
Berita sebelumnya Berita berikutnya

Advertorial »

نموذج الاتصال