Kemacetan Panjang di Jalur Menuju Pelabuhan Gilimanuk

Bali, JatimVoice.com - Kemacetan panjang terjadi di jalur menuju Pelabuhan Gilimanuk, Bali, pada puncak mudik dan menjelang ditutupnya pelabuhan karena Hari Raya Nyepi. Antrean masuk kapal ke Pelabuhan Gilimanuk mengular panjang karena kapasitas pelabuhan yang tidak mampu menampung peningkatan volume penumpang dan kendaraan.
Sumber detik.com


Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan, Aan Suhanan, mengatakan bahwa kemacetan horor ini terjadi karena libur lebaran yang berdekatan dengan Hari Raya Nyepi. Masyarakat yang mau keluar Bali memulai perjalanan lebih dulu sebelum pelabuhan ditutup karena Hari Raya Nyepi.

"Ini kan berdekatan liburan Nyepi kemudian libur Lebaran. Ini memang ada peningkatan volume. Volume dari Gilimanuk, ini ada peningkatan yang menuju Jawa," ujar Aan kepada detikcom.

Data Posko Angkutan Lebaran mencatat total penumpang di lintasan penyeberangan itu pada H-6 lebaran ada 80.416 orang, naik 33,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebanyak 60.099 orang. Di sisi lain, truk sumbu 3 ke atas juga masih banyak yang beroperasi, membuat kapasitas jalan tidak mampu menampung peningkatan volume yang terjadi.

Aan menjelaskan bahwa kapasitas lintas penyeberangan Ketapang-Gilimanuk memang tidak sebesar Merak-Bakauheni. Dari dermaga hanya 8 unit yang ada di dua sisi, kemudian armada kapal besarnya juga hanya sedikit.

"Di sini kan ada 8 dermaga di sisi Gilimanuk dan di sisi Ketapang. Kemudian kapal yang 2.000 GT ke atas ini hanya ada 8-9, selebihnya kapalnya kan 2.000 ke bawah. Jadi kapasitas angkutnya memang sedikit," kata Aan.

Ketua Umum DPP Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap), Khoiri Soetomo, menambahkan bahwa kemacetan panjang yang terjadi juga memperlihatkan bahwa sistem kedatangan kendaraan menuju pelabuhan masih belum tertata secara optimal.

"Masalah utama bukan hanya lonjakan kendaraan, tetapi juga belum tertatanya sistem kedatangan kendaraan ke pelabuhan serta belum seimbangnya pertambahan armada kapal dengan pembangunan dermaga, baik dari sisi jumlah, kualitas, maupun kapasitas," ujar Khoiri.

Khoiri menjelaskan bahwa moda transportasi penyeberangan saat ini masih tergolong sangat terbuka dibandingkan moda transportasi lain. Kendaraan dapat langsung menuju pelabuhan meskipun belum memiliki tiket atau kode booking.

Kondisi tersebut menyebabkan kendaraan datang secara bersamaan dalam jumlah besar tanpa pengaturan waktu yang jelas, sehingga pelabuhan tidak memiliki mekanisme yang cukup untuk mengendalikan arus kendaraan dari hulu.

Pihaknya memandang perlunya langkah-langkah sistemik dalam pembenahan transportasi penyeberangan, antara lain melalui penambahan kapasitas dermaga, penataan sistem kedatangan kendaraan menuju pelabuhan, penerapan kewajiban tiket atau kode booking sebelum kendaraan menuju pelabuhan, serta penyediaan buffer zone atau area penyangga kendaraan sebelum memasuki kawasan pelabuhan.

Selain itu, integrasi antara pembangunan infrastruktur jalan dan pengembangan kapasitas pelabuhan juga menjadi hal penting agar sistem transportasi penyeberangan dapat berjalan lebih seimbang dan efisien.

Dengan demikian, diharapkan kemacetan panjang di jalur menuju Pelabuhan Gilimanuk dapat diatasi dan arus lalu lintas dapat berjalan lancar dan aman.
Baca juga:
Berita sebelumnya Berita berikutnya

Advertorial »

نموذج الاتصال