Yogyakarta, JatimVoice.com - Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada Yogyakarta (BEM UGM) Tiyo Ardianto mendapatkan teror setelah memprotes pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang gagal menjamin hak dasar anak. Tiyo menerima pesan WhatsApp bernada ancaman penculikan dari nomor dengan kode Inggris empat hari setelah BEM mengkritik Prabowo.
![]() |
| Sumber tempo.co |
Dilansir dari berbagai sumber, ancaman tersebut terjadi setelah BEM UGM mengirimkan surat terbuka kepada United Nations Children’s Fund (UNICEF) pada 6 Februari lalu, untuk merespons tragedi siswa sekolah dasar yang bunuh diri di NTT karena diduga tidak mampu membeli pulpen dan buku sekolah seharga kurang dari Rp 10 ribu. Dalam surat itu, Tiyo memaparkan sejumlah poin, yakni tragedi itu meruntuhkan seluruh pencapaian statistik pemerintah yang dipamerkan Presiden Prabowo dalam rapat koordinasi nasional.
Tiyo juga mengkritik pemerintah yang gagal menentukan prioritas kemanusiaan dan anggaran pendidikan yang digunakan untuk kebijakan populis tanpa arah yang potensial menjadi ladang korupsi. BEM UGM menilai Presiden Prabowo Subianto buta pada realitas dan tidak mau belajar.
Selain ancaman penculikan, Tiyo juga dikuntit dua orang saat berada di sebuah kedai. Penguntitan itu terjadi sehari setelah muncul ancaman. "Mereka memotret dan bergegas pergi," kata Tiyo saat dihubungi pada Kamis, 12 Februari 2026.
Teror serupa terhadap Tiyo dan BEM UGM bukan kali pertama. Sebelumnya mereka kerap mendapatkan teror karena memprotes proyek Makan Bergizi Gratis dan Revisi Undang-Undang TNI. Tiyo pernah mendapatkan ancaman pembunuhan.
Dalam surat terbuka BEM UGM, Tiyo menulis bahwa Presiden Prabowo hidup dalam imajinasinya sendiri dan gagal memberikan perlindungan terhadap anak. BEM UGM juga mengkritik anggaran pendidikan yang digunakan untuk kebijakan populis tanpa arah yang potensial menjadi ladang korupsi.
Dengan demikian, diharapkan pemerintah dapat memperhatikan kritik-kritik yang disampaikan oleh BEM UGM dan melakukan perubahan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan perlindungan anak di Indonesia. Selain itu, diharapkan juga pemerintah dapat meningkatkan keamanan dan perlindungan bagi aktivis-aktivis mahasiswa yang kerap mendapatkan teror dan ancaman.
Dalam jangka panjang, diharapkan BEM UGM dapat terus menjadi suara bagi mahasiswa dan masyarakat Indonesia dalam menyampaikan kritik-kritik dan aspirasi-aspirasi mereka. Dengan demikian, diharapkan BEM UGM dapat berperan aktif dalam meningkatkan kualitas demokrasi dan pemerintahan di Indonesia.
Namun, dalam jangka pendek, diharapkan pemerintah dapat segera mengambil tindakan untuk meningkatkan keamanan dan perlindungan bagi Tiyo dan BEM UGM. Selain itu, diharapkan juga pemerintah dapat memperhatikan kritik-kritik yang disampaikan oleh BEM UGM dan melakukan perubahan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan perlindungan anak di Indonesia.
Dengan demikian, diharapkan Indonesia dapat menjadi negara yang lebih demokratis dan memiliki pemerintahan yang lebih baik. Selain itu, diharapkan juga Indonesia dapat menjadi negara yang lebih peduli dengan hak-hak asasi manusia dan memiliki pemerintahan yang lebih transparan dan akuntabel.
Tags
Politik

