JatimVoice.com - Di tengah kesibukan hilir mudik umat Tionghoa di Klenteng Eng An Kiong, Kota Malang, Jawa Timur, seorang pria bernama Tio Gek Ie duduk tenang di kursi panjang berbahan kayu, menikmati suasana yang tenang dan damai. Dilansir dari berbagai sumber, asap hio mengepul tipis di udara, sementara lonceng sembahyang sesekali terdengar, menciptakan suasana yang sangat khas dan sakral.
![]() |
| Sumber kompas.com |
Tio Gek Ie, yang dalam dokumen resmi bernama Herman Subianto, merupakan Ketua Agama sekaligus Wakil Ketua Umum Yayasan Klenteng Eng An Kiong. Ia bukan sekadar umat yang beribadah, tetapi juga memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga dan melestarikan tradisi dan budaya Tionghoa di Kota Malang.
Di tengah persiapan perayaan Imlek, Tio Gek Ie tetap menyempatkan diri bercerita tentang satu hal yang menurutnya tak kalah penting dari perayaan tahunan itu, yakni menjaga nama Tionghoa dan silsilah keluarga. Menurutnya, nama itu bukan sekadar panggilan, tetapi juga warisan yang harus dijaga dan dilestarikan.
"Nama itu bukan sekadar panggilan. Itu kami maknai sebagai warisan," ujar Ie kepada Kompas.com, Rabu (11/2/2026). Nama Tionghoa yang ia sandang memiliki makna mendalam. Tio adalah marga keluarga yang diwariskan turun-temurun. Lalu, Gek berarti semangat, sementara Ie bermakna kekuatan. Jika dirangkai, namanya mengandung arti semangat dalam menjaga kekuatan.
"Arti nama ini kan juga doa. Artinya semangat menjaga kekuatan," bebernya. Makna itu, kata Ie, bukan sekadar filosofi, melainkan prinsip hidup terutama dalam merawat akar keluarga dan garis keturunan.
Di lingkungan keluarga besar, nama Tionghoa masih digunakan dalam percakapan sehari-hari. "Kalau di kalangan keluarga, semua panggil nama China. Tapi kalau di luar, saya dipanggil Herman," katanya.
Marga Tio menjadi benang merah yang menghubungkan generasi demi generasi. Dari sang kakek bernama Tio Tek, ayahnya Tio Shyong, dirinya Tio Gek, hingga anaknya Tio Zhang. Pola penamaan itu bukan kebetulan, melainkan bagian dari sistem yang memudahkan keluarga mengenali silsilah masing-masing garis keturunan.
"Supaya tidak keliru, agar keluarga tahu silsilah. Kadang sepupu ada yang lebih tua atau lebih muda, bisa membingungkan. Dengan nama generasi, kita jadi tahu posisi masing-masing," tutur pria yang kini menjadi salah satu tokoh di klenteng tersebut.
Tio Gek Ie juga menjelaskan bahwa nama Tionghoa memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga dan melestarikan tradisi dan budaya Tionghoa di Kota Malang. "Nama Tionghoa adalah warisan yang harus dijaga dan dilestarikan. Kami berusaha untuk menjaga dan melestarikan tradisi dan budaya Tionghoa, termasuk nama Tionghoa," katanya.
Dengan demikian, Tio Gek Ie merupakan sosok yang sangat penting dalam menjaga dan melestarikan tradisi dan budaya Tionghoa di Kota Malang. Ia memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga nama Tionghoa dan silsilah keluarga, serta melestarikan tradisi dan budaya Tionghoa di Kota Malang.
Tags
Malang

