Washington, JatimVoice.com - Presiden Amerika Serikat Donald Trump meminta sekutu-sekutunya di Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) untuk membantu membuka blokade Selat Hormuz oleh Iran. Ia juga meminta bantuan serupa dari China.
![]() |
| Sumber kompas.id |
Trump memperingatkan bahwa NATO akan menghadapi masa depan yang sangat buruk jika tidak membantunya membuka kembali Selat Hormuz yang diblokade Iran. Pernyataan ini disampaikan dalam konteks meningkatnya ketegangan di Timur Tengah setelah serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran.
Dilansir dari berbagai sumber, Pemerintah Jerman merespons desakan Trump dengan menyatakan bahwa perang di Timur Tengah tidak ada hubungannya dengan NATO dan bukan perang NATO. "NATO adalah aliansi untuk pertahanan wilayah dan mandat untuk mengerahkan NATO tidak ada dalam situasi saat ini," kata Stefan Kornelius, juru bicara Kanselir Jerman Friedrich Merz dalam konferensi pers rutin.
Negara anggota NATO lainnya, Inggris, juga menyatakan tidak akan terlibat dalam perang yang lebih luas di Iran. Namun, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer mengatakan bahwa Inggris tetap akan bekerja sama dengan negara-negara sekutu dalam rencana kolektif "yang layak" untuk membuka kembali Selat Hormuz.
Presiden Perancis Emmanuel Macron mengatakan bahwa pihaknya sedang bekerja sama dengan berbagai negara mitra di Eropa dan Asia mengenai kemungkinan misi internasional untuk mengawal kapal melalui selat tersebut. Macron menekankan bahwa hal itu harus dilakukan ketika keadaan memungkinkan, yakni saat pertempuran telah mereda.
Serangan gabungan AS-Israel ke Iran memicu penutupan Selat Hormuz. Banyak kapal pengangkut minyak dan gas yang tertahan di perairan dan tidak bisa melintas. Akibatnya, harga minyak dunia melonjak hingga lebih dari 40 persen. Pada Senin, harga minyak mentah sekitar 100 dolar AS per barel.
Dalam upaya untuk mengatasi krisis ini, Trump mempertimbangkan untuk membentuk koalisi internasional untuk membantunya menjaga Selat Hormuz. Koalisi itu direncanakan terdiri atas negara-negara yang bergantung pada minyak mentah Timur Tengah.
"Sangat tepat jika negara-negara yang diuntungkan dari selat ini membantu memastikan tidak terjadi hal buruk di sana," kata Trump kepada Financial Times di atas pesawat Air Force One saat terbang kembali ke Washington dari Florida, Minggu.
Trump juga meminta bantuan China dengan alasan China mendapatkan sekitar 90 persen kebutuhan minyaknya dari kawasan Timur Tengah dan melewati Selat Hormuz. Sementara AS hanya mendapatkan minyak sedikit.
Menteri Energi AS Chris Wright mengatakan bahwa ia sudah berkomunikasi dengan beberapa negara yang disebutkan Trump. Untuk China, ia mengharapkan China akan menjadi mitra yang konstruktif dalam membuka kembali selat itu.
Juru bicara Kedutaan Besar China untuk AS, Liu Pengyu, mengatakan bahwa semua pihak memiliki tanggung jawab untuk memastikan pasokan energi yang stabil dan tidak terhambat. "China akan memperkuat komunikasi dengan pihak-pihak terkait untuk deeskalasi," katanya.
Situasi terkini di Timur Tengah membuat Trump bisa saja menunda pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping. Direncanakan mereka akan bertemu pada akhir Maret.
" Kami ingin tahu sebelum perjalanan tersebut apakah Beijing akan membantu. Kami mungkin akan menunda," kata Trump dalam wawancara dengan Financial Times, Minggu.
Pembatalan kunjungan dan agenda pertemuan Trump dengan Xi dapat memiliki konsekuensi ekonomi besar. Hubungan antara Washington dan Beijing sudah tegang setelah kedua belah pihak saling mengancam dengan tarif tinggi selama setahun terakhir.
Namun, Menteri Keuangan AS Scott Bessent, Senin, mengatakan bahwa keputusan Trump tentang apakah akan menunda pertemuan puncak di China tidak bergantung pada respons Beijing terhadap permintaan bantuan dalam membuka Selat Hormuz. Bessent bertemu dengan koleganya dari China di Paris, Perancis, dan mengatakan pertemuan berjalan dengan baik.
Di tengah gejolak harga energi, Badan Energi Internasional (IEA) segera mengalirkan cadangan minyak darurat ke pasar global. Sebanyak 412 juta barel minyak akan dialirkan ke pasar global. Jepang telah mulai melepas cadangan minyaknya pada Senin. Cadangan dari Eropa dan Amerika akan dilepaskan mulai akhir Maret.
Menyikapi pentingnya Selat Hormuz, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi kepada CBS mengatakan bahwa Teheran telah didekati oleh sejumlah negara yang mencari jalur aman untuk kapal mereka. "Hal ini terserah militer kami untuk memutuskan," katanya.
Ia menambahkan bahwa sekelompok kapal dari berbagai negara telah diizinkan untuk lewat Selat Hormuz. Namun, Araghchi tidak memberikan penjelasan secara detail. Iran mengatakan bahwa selat itu terbuka untuk semua, kecuali Amerika Serikat dan sekutunya.
Tags
Internasional
:quality(80)/https://asset.kgnewsroom.com/photo/pre/2026/03/11/623e1474-ac0c-40c8-9402-a4322b56c6a2_jpg.jpg)

