Warga Greenland Tolak Invasi AS

NUUK, JatimVoice.com - Ribuan warga Greenland turun ke jalan pada Sabtu (17/1/2026) waktu setempat atau Minggu (18/1/2026) waktu Jakarta, untuk menolak keinginan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mencaplok wilayah mereka. Dalam aksi unjuk rasa yang digelar di Nuuk, ibu kota Greenland, para demonstran membawa bendera dan spanduk bertuliskan "Greenland tidak untuk dijual".
Sumber kompas.id


Dilansir dari berbagai sumber, termasuk AFP dan Reuters, aksi unjuk rasa tersebut merupakan respons terhadap pernyataan Trump yang menyatakan niatnya untuk mengambil alih Greenland. Trump berdalih bahwa wilayah strategis kaya mineral itu menjadi incaran Rusia dan China, dan bahwa AS ingin menjaga kawasan tersebut sekaligus mengoptimalkan pengelolaan kekayaan alam yang terkandung di Greenland.

Namun, warga Greenland tidak menerima niat Trump tersebut. Mereka khawatir bahwa jika AS mengambil alih Greenland, maka kedaulatan dan budaya mereka akan terancam. "Demonstrasi ini penting untuk anak-anak, untuk menunjukkan kepada mereka bahwa mereka diizinkan untuk bersuara," kata Marie Pedersen, seorang warga Greenland yang hadir dalam aksi unjuk rasa.

Pedersen menambahkan bahwa warga Greenland ingin menjaga negara mereka sendiri, budaya mereka sendiri, dan keluarga mereka tetap aman. Putrinya yang berusia 9 tahun, Alaska, turut membawa plakat bertuliskan "Greenland tidak untuk dijual". Alaska mengatakan bahwa guru-gurunya telah membahas kontroversi yang dipicu Trump serta tentang Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).

Seorang perwira polisi setempat, Tom Olsen, menggambarkan aksi unjuk rasa tersebut sebagai unjuk rasa terbesar yang pernah dilihatnya di Nuuk. "Saya harap ini dapat menunjukkan kepada Trump bahwa kami, di Eropa bersatu," kata Olsen. "Kami tidak akan menyerah tanpa perlawanan."

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez juga mengkritik niat Trump untuk mencaplok Greenland. Sanchez mengatakan bahwa invasi AS ke Greenland justru akan membuat Presiden Rusia Vladimir Putin menjadi orang paling berbahagia di dunia. "Mengapa? Sebab, itu akan melegitimasi upayanya untuk menginvasi Ukraina," kata Sanchez dalam wawancara dengan surat kabar La Vanguardia.

Sanchez menambahkan bahwa jika Amerika Serikat menggunakan kekuatan, itu akan menjadi lonceng kematian bagi NATO. "Putin akan dua kali lebih bahagia," kata Sanchez.

Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen dan Presiden Dewan Uni Eropa Antonio Costa juga mengkritik langkah Trump yang mengancam akan mengenakan tambahan tarif kepada mitra-mitra dagang AS di Eropa jika mereka "menghalangi" niat Trump atas Greenland. Von der Leyen dan Costa mengatakan bahwa tarif akan merusak hubungan transatlantik dan berisiko menyebabkan spiral menurun yang berbahaya.

Kepala Kebijakan Luar Negeri dan Keamanan Uni Eropa Kaja Kallas juga mengkritik tarif yang diancamkan Trump. Kallas mengatakan bahwa tarif akan merugikan kemakmuran bagi kedua belah pihak, yakni Eropa dan AS. "China dan Rusia pasti sedang menikmati keuntungan besar. Merekalah yang diuntungkan dari perpecahan di antara sekutu," kata Kallas.

Kallas menambahkan bahwa jika keamanan Greenland terancam, maka Uni Eropa dan AS dapat mengatasi ini di dalam NATO. "Tarif berisiko membuat Eropa dan Amerika Serikat lebih miskin dan merusak kemakmuran bersama kita," kata Kallas.

Dalam beberapa hari terakhir, tensi antara AS dan Eropa meningkat terkait dengan niat Trump untuk mencaplok Greenland. Namun, warga Greenland tetap teguh dalam menolak niat Trump tersebut. Mereka ingin menjaga kedaulatan dan budaya mereka sendiri, dan tidak ingin menjadi bagian dari konflik antara AS dan negara-negara lain.
Also Read:
Previous Post Next Post

Advertorial »

نموذج الاتصال