Konflik Amerika Serikat-Israel versus Iran Ancam Perekonomian Jawa Timur

Surabaya, JatimVoice.com - Eskalasi konflik Amerika Serikat-Israel versus Iran yang berdampak ke kawasan Timur Tengah berpotensi memberikan tekanan serius terhadap perekonomian Jawa Timur. Konflik geopolitik global tersebut dinilai bakal berdampak signifikan terhadap kinerja perdagangan luar negeri Jatim, terutama pada sektor pangan dan industri halal.
Sumber kompas.id


Dilansir dari berbagai sumber, konflik Timur Tengah akan berdampak secara langsung terhadap hubungan dagang Jatim dengan pelaku usaha di kawasan tersebut. Selain itu, ada efek berantai yang menjalar melalui kenaikan harga energi, volatilitas nilai tukar rupiah, serta melonjaknya biaya logistik internasional.

Sebagai motor ekonomi nasional dengan kontribusi terbesar kedua, Jatim harus merespons dinamika global tersebut secara cepat dan terukur. Hal itu penting agar stabilitas ekonomi daerah tidak terganggu. Berdasarkan analisis Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim, eskalasi konflik berpotensi menaikkan biaya produksi industri padat energi, tarif pengiriman kontainer, serta asuransi ekspor.

Wakil Ketua Umum Kadin Jatim Bidang Perdagangan Internasional dan Promosi Luar Negeri Tommy Kaihatu mengatakan, dari sisi perdagangan luar negeri konflik di Timur Tengah berpotensi menghambat kinerja ekspor Jatim meskipun saat ini kondisinya masih tergolong solid. Nilai ekspor Jawa Timur mencapai sekitar 30 miliar dolar AS dengan surplus perdagangan lebih dari 800 juta dolar AS. Sekitar 10 persen dari ekspor tersebut ditujukan langsung ke kawasan Timur Tengah.

Kawasan Timur Tengah tumbuh sebagai pasar ekspor potensial Jatim seiring berkembangnya industri halal. Apalagi, Jatim merupakan salah satu pusat industri halal nasional yang ditandai dengan hadirnya Kawasan Industri Halal (KIH) di Sidoarjo. Produk halal Jatim antara lain aneka makanan olahan, produk fashion, produk kecantikan, hingga kerajinan tangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Struktur ekspor Jatim yang didominasi oleh produk manufaktur, agroindustri, dan industri pengolahan sangat sensitif terhadap kenaikan biaya energi dan logistik. Oleh karena itu, efek berantai konflik Timur Tengah yang menjalar melalui kenaikan harga minyak dunia dan gangguan sistem perdagangan global perlu diperhatikan secara serius.

Jika kontrak ekspor bersifat fixed price (harga tetap), margin eksportir bisa tergerus karena menanggung kenaikan sejumlah biaya tersebut. Di sisi lain, ketidakpastian global juga dapat menekan permintaan di pasar negara-negara tujuan ekspor. Oleh karena itu, tantangan utama yang harus diantisipasi ke depan tidak hanya penurunan volume ekspor dari Jatim, tetapi juga menurunnya daya saing pelaku ekspor akibat kenaikan biaya produksi.

Ketua Umum Kadin Jatim Adik Dwi Putranto menambahkan, sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz, kawasan yang sangat sensitif terhadap konflik. Ketegangan yang meningkat berpotensi mendorong kenaikan harga minyak mentah dan premi asuransi pelayaran internasional yang pada akhirnya berdampak pada biaya transportasi dan distribusi barang, termasuk ke Indonesia.

Jatim juga akan menghadapi tantangan impor, terutama bahan pangan, seperti kedelai. Indonesia hingga kini masih mengimpor 2,5 juta-3 juta ton kedelai per tahun, dengan impor terbesar dari Amerika Serikat dengan nilai mencapai lebih dari 1 miliar dolar AS. Jawa Timur sebagai sentra industri tempe dan tahu nasional sangat bergantung pada pasokan tersebut.

Kenaikan harga minyak dan ongkos pengiriman diperkirakan akan meningkatkan landed cost kedelai. Risiko semakin besar jika kondisi ini dibarengi pelemahan rupiah akibat sentimen risk-off global. Jika landed cost kedelai naik, harga kedelai impor akan meningkat, dan kenaikan harga kedelai impor berpotensi menggerus margin pelaku UMKM menjadi sangat tipis.

Untuk mengantisipasi risiko tersebut, Kadin Jatim mendorong pemerintah pusat maupun daerah melakukan sejumlah langkah strategis. Dalam jangka pendek atau kurang dari 30 hari, diperlukan koordinasi cepat antara pemerintah daerah, importir, dan pelaku industri guna memastikan ketersediaan buffer stock kedelai minimal untuk kebutuhan 1-2 bulan.

Di sektor industri manufaktur dan industri yang berorientasi ekspor, pemerintah bisa memberikan fasilitas pembiayaan modal kerja jangka pendek. Sementara itu, untuk jangka menengah atau kurang dari enam bulan, pemerintah harus menemukan diversifikasi sumber impor kedelai guna mengurangi ketergantungan pada Amerika Serikat.

Meski tantangan global meningkat, Kadin Jatim menyatakan, fundamental ekonomi Jatim relatif kuat dan telah teruji menghadapi berbagai guncangan global sebelumnya. Namun, respons cepat dan koordinasi lintas sektor tetap menjadi kunci agar tekanan eksternal tidak berkembang menjadi gangguan serius terhadap stabilitas ekonomi daerah.

Kita tidak bisa mengendalikan geopolitik global, tetapi kita bisa memperkuat ketahanan ekonomi daerah. Stabilitas pangan dan daya saing ekspor harus menjadi prioritas bersama. Dengan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, pelaku usaha, otoritas keuangan, serta berbagai pihak terkait lainnya, Jatim diyakini memiliki resiliensi dan mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global yang semakin tinggi.
Baca juga:
Lebih baru Lebih lama

Advertorial »

نموذج الاتصال