Teheran, JatimVoice.com - Iran telah menunjuk Ayatollah Alireza Arafi sebagai pemimpin Dewan Kepemimpinan Sementara yang akan mengambil alih tugas Pemimpin Tertinggi setelah kematian Ayatollah Ali Khamenei. Penunjukan ini menandai transisi kepemimpinan tertinggi kedua sejak Revolusi Islam 1979, dan menguji kemampuan politik Iran untuk menjaga kohesi.
![]() |
| Sumber CNN Indonesia |
Dilansir dari berbagai sumber, Dewan Kepemimpinan Sementara ini akan memimpin negara untuk sementara waktu hingga Majelis Ahli memilih pemimpin permanen secepat mungkin. Dewan ini beranggotakan presiden, kepala kekuasaan yudisial, dan Ayatollah Alireza Arafi. Mereka akan menjalankan fungsi penting hingga Majelis menentukan pengganti tetap.
Ayatollah Alireza Arafi, yang berusia 67 tahun, merupakan anggota Dewan Pengawas yang nantinya akan memilih pemimpin tertinggi pengganti Khamenei. Ia lahir pada 1959 di Meybod, provinsi Yazd, dan berasal dari keluarga ulama. Arafi menghabiskan puluhan tahun belajar di lembaga teologi serta birokrasi Iran.
Arafi menempuh pendidikan di Qom di bawah bimbingan ulama terkemuka dan meraih gelar mujtahid, yang memberinya hak mengeluarkan fatwa secara independen. Kariernya berkembang di bawah kepemimpinan Khamenei, yang memberinya berbagai posisi penting, termasuk memimpin salat Jumat di Meybod dan Qom.
Ia juga menjabat sebagai ketua Universitas Internasional Al-Mustafa, pusat pelatihan ulama dari dalam dan luar Iran. Pada 2019, Arafi diangkat menjadi anggota Dewan Penjaga yang berpengaruh, yang bertugas mengawasi undang‑undang dan calon dalam pemilu di Iran.
Jabatan itu menempatkannya di antara elit ulama yang berperan penting dalam menjaga kesinambungan hierarki keagamaan negara itu. Berdasarkan konstitusi, Pemimpin Tertinggi Iran harus seorang ulama Syiah senior yang dipilih Majelis Pakar, badan yang terdiri dari para cendekiawan agama.
Arafi menekankan peran seminari dan ulama dalam politik, solidaritas dengan kaum tertindas, dan pandangan internasional. "Seminari harus berasal dari rakyat, bersolidaritas dengan kaum tertindas, bersifat politis, revolusioner, dan berwawasan internasional," ujarnya.
Meski memiliki kredibilitas tinggi di kalangan elit, Arafi relatif tidak memiliki basis politik independen, yang bisa mempengaruhi kepemimpinannya di tengah konflik eksternal dan ketidakstabilan internal. Oleh karena itu, penunjukan Arafi sebagai pemimpin Dewan Kepemimpinan Sementara ini menjadi tantangan bagi Iran untuk menjaga stabilitas dan kohesi politik.
Dalam beberapa tahun terakhir, Iran telah menghadapi berbagai tantangan, termasuk konflik dengan negara-negara Barat, krisis ekonomi, dan ketidakstabilan internal. Oleh karena itu, transisi kepemimpinan ini menjadi sangat penting bagi Iran untuk menentukan arah politik dan ekonomi negara tersebut.
Dengan penunjukan Arafi sebagai pemimpin Dewan Kepemimpinan Sementara, Iran diharapkan dapat menjaga stabilitas dan kohesi politik, serta menentukan arah politik dan ekonomi negara tersebut. Namun, tantangan yang dihadapi oleh Arafi dan Dewan Kepemimpinan Sementara tidaklah mudah, dan memerlukan kerja sama dan kompromi dari semua pihak untuk mencapai tujuan tersebut.
Tags
Internasional


