Teheran, JatimVoice.com - Perundingan lanjutan antara Amerika Serikat dan Iran dijadwalkan berlangsung dalam beberapa hari mendatang. Meskipun kedua negara sepakat untuk berunding, namun Amerika Serikat tetap mempertahankan persiapan untuk menyerang Iran.
![]() |
| Sumber kompas |
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menegaskan bahwa Iran tidak akan meninggalkan program nuklirnya. "Tidak ada yang berhak mendikte kami," ujarnya di Teheran, Minggu (8/2/2026). Iran akan mempertahankan hak untuk memperkaya uranium, bahkan jika diancam dengan serangan oleh Amerika Serikat. "Pengerahan militer mereka di kawasan tidak menakutkan kami," ujarnya.
Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran di Oman beberapa hari lalu tidak membawa hasil yang signifikan. Amerika Serikat mengutus Laksamana Brad Cooper sebagai anggota delegasi, yang hadir dengan seragam lengkap. Cooper mendampingi Utusan Khusus AS untuk Perdamaian Steve Witkoff dan menantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner. Mereka berunding selama delapan jam dengan delegasi Iran yang dipimpin oleh Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi.
Setelah perundingan, Cooper dan delegasi Amerika Serikat lainnya mengunjungi kapal induk USS Abraham Lincoln di Laut Arab. Kapal induk ini, bersama dengan sejumlah kapal perusak dan jet tempur, telah berada di kawasan tersebut sejak akhir Januari 2026. Cooper, yang juga merupakan Panglima Komando Tengah (Centcom) AS, menunjukkan tekad kuat Amerika Serikat untuk menggunakan militer jika perundingan gagal.
Presiden Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat memiliki cukup waktu untuk menanti kesepakatan. "Kalau anda ingat Venezuela, kami menanti beberapa waktu. Kami tidak terburu-buru," ujarnya. Trump juga merujuk pada fakta bahwa Amerika Serikat mengerahkan armada perang ke Karibia sebelum akhirnya menyerang Venezuela pada 3 Januari 2026.
Dilansir dari berbagai sumber, Amerika Serikat telah menambah jet tempur dan armada pendukung di Timur Tengah. Pesawat angkut militer AS juga disebut memindahkan artileri pertahanan udara besar-besaran ke sekitar Iran dan Israel.
Beberapa analis politik dan pertahanan menilai bahwa kehadiran Cooper dalam perundingan dengan Iran adalah untuk mengintimidasi Teheran. Cooper memiliki pemahaman memadai tentang kawasan dan akses langsung ke penilaian versi militer atas perkembangan di kawasan.
Sementara itu, mantan Penasihat Departemen Luar Negeri AS, Eliot Cohen, menyatakan bahwa Amerika Serikat sudah biasa mengutus perwira militer ke meja perundingan. "Ada tradisi panjang presiden Amerika menggunakan orang-orang yang tidak biasa sebagai utusan jika mereka memercayai mereka dan berpikir mereka dapat menyampaikan pesan," kata Cohen.
Namun, analis pertahanan pada Brookings Institution, Michael O'Hanlon, menilai bahwa kehadiran Cooper jelas untuk mengintimidasi Iran. "Cooper hadir sebagai wujud tekad kuat Trump menggunakan militer apabila perundingan gagal," ujarnya.
Mantan direktur di Dewan Keamanan Nasional AS, Michael Singh, menilai bahwa Cooper hadir karena keahliannya. Sebagai Panglima Centcom, Cooper disebut memiliki pemahaman memadai soal kawasan dan akses langsung ke penilaian versi militer atas perkembangan di kawasan.
Perundingan antara Amerika Serikat dan Iran masih menemui jalan buntu. Amerika Serikat ingin membahas isu lain selain nuklir, seperti pengembangan rudal dan relasi dengan milisi di kawasan. Namun, Iran hanya mau membahas isu nuklir.
Peneliti Institute for National Security Studies (INSS) Israel, Danny Citrinowicz, menyatakan bahwa dilema kini ada di Amerika Serikat. Washington harus memutuskan apakah akan fokus pada nuklir saja atau tidak. Jika fokus pada nuklir, peluang kesepakatan tercapai terbuka. Namun, jika melebarkan isu, perundingan mungkin akan gagal.
Wakil Presiden Eksekutif Quincy Institute for Responsible Statecraft di AS, Trita Parsi, menyebut bahwa Iran dalam kondisi siap perang. "Ada pandangan kuat dari Iran bahwa Trump memiliki asumsi yang berlebihan soal kelemahan Iran," ujarnya. Oleh karena itu, Iran percaya perang singkat dan intens mungkin diperlukan untuk memperbaiki persepsi Trump dan memaksanya untuk mengadopsi tuntutan yang lebih realistis.
Tags
Internasional
:quality(75)/https://cdn-dam.kompas.id/images/2025/12/13/faa40174ad5f8caf8016214024d2707d-wires_photo_32.jpg)
