JatimVoice.com - Ketidakjelasan pernyataan antara Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan pejabat tinggi Iran menimbulkan tanda tanya besar tentang kemungkinan negosiasi untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir sebulan. Perbedaan narasi antara Trump dan Teheran membuat publik kesulitan menentukan pihak mana yang benar.
![]() |
| Sumber CNBC Indonesia |
Dilansir dari berbagai sumber, Trump mengklaim bahwa pembicaraan dengan pejabat tinggi Iran berjalan "produktif" dan terdapat "poin-poin kesepakatan utama". Namun, Teheran berulang kali membantah pernyataan tersebut, menunjukkan perbedaan narasi di tengah konflik yang juga melibatkan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf membantah adanya pembicaraan dengan AS dan menuding klaim negosiasi sebagai upaya manipulasi pasar. "Tidak ada negosiasi yang dilakukan dengan Amerika Serikat, dan berita palsu digunakan untuk memanipulasi pasar keuangan dan minyak serta keluar dari kubangan yang menjebak Amerika Serikat dan Israel," tulis Ghalibaf di media sosial.
Perbedaan narasi tersebut membuat komentar publik sulit dijadikan indikator apakah negosiasi benar-benar terjadi atau tidak. Oleh karena itu, analisis mengenai kepentingan masing-masing pihak dalam melanjutkan perang atau mengakhirinya menjadi penting.
Trump dinilai meremehkan konsekuensi konflik yang ia mulai bersama Netanyahu pada 28 Februari, termasuk kemampuan Iran bertahan dari serangan tanpa runtuh. Namun, sejumlah ahli termasuk pejabat intelijen AS sebelumnya telah memperingatkan risiko tersebut.
Dalam konteks ini, mengakhiri perang dinilai juga memberikan keuntungan politik dan ekonomi bagi Trump. Ia telah memerintahkan pemerintahannya untuk memberikan pengecualian sanksi sementara terhadap sebagian minyak Iran guna menenangkan harga minyak. Langkah tersebut juga dipandang sebagai respons terhadap strategi Iran memperluas konflik ke kawasan Teluk dan Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia.
Namun, keputusan tersebut tidak sepenuhnya berada di tangan Trump. Iran, yang diserang untuk kedua kalinya dalam kurang dari setahun, dinilai memiliki insentif lebih kecil untuk mengakhiri perang tanpa adanya pencegah efektif terhadap serangan di masa depan.
Pendekatan Iran juga terlihat berubah. Serangan yang sebelumnya terbatas kini digantikan dengan taktik yang lebih agresif, menunjukkan Teheran tidak lagi terlalu fokus pada penahanan eskalasi. Dalam kondisi ini, sebagian analis menilai Iran mungkin diuntungkan jika konflik berlarut-larut untuk meningkatkan tekanan di kawasan dan memastikan kelangsungan negara.
Namun, Iran juga menghadapi kerugian besar. Pemerintah menyebut lebih dari 1.500 orang telah tewas di seluruh negeri. Infrastruktur mengalami kerusakan berat, dan jaringan listrik berpotensi menjadi sasaran berikutnya.
Hubungan Iran dengan negara-negara Teluk juga memburuk tajam, dan setelah serangan berulang dari Teheran, hubungan tersebut diperkirakan sulit kembali seperti sebelum konflik. Di sisi lain, kelompok moderat di Iran menilai situasi masih bisa memburuk dan waktu untuk membuka pembicaraan mungkin telah tiba.
Jika konsesi dapat diperoleh, seperti janji tidak ada serangan di masa depan atau kewenangan lebih besar di Selat Hormuz, mereka dapat menilai momentum untuk mencapai kesepakatan sudah terbentuk. Oleh karena itu, perlu dilihat bagaimana perkembangan situasi di masa depan dan apakah negosiasi dapat dilakukan untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung hampir sebulan.
Tags
Internasional


